Tuesday, May 7, 2013

Spoiler New Single

Seakan-akan ada yang penasaran ketika gue buat spoiler mengenai single terbaru yang akan gue terbitkan. Haha. Tak apalah. Yang penting terus menghasilkan karya, yang berkualitas. Amiiin.. Gue sangat ingin membuat lagu yang mengkritik layanan perkeretaapian Jabodetabek, tetapi sampai sekarang gue kesulitan sekali untuk menyusun kata-katanya. Jadi, sepertinya gue tangguhkan dulu tema lagu ini. 

Kemarin gue membaca ulang majalah TEMPO yang dibeli sebagai syarat lomba TEMPOrasi (oh ya, kami tidak menang, hiks. Dua dari tiga pemenang deserved the prize, but I don't think the other one should be the winner) Di dalam majalah tersebut terdapat pembahasan mengenai potensi sumber energi listrik yang dimiliki Indonesia. Wow, terpana gue. Terpukau. Kagum. Dan lagi-lagi, sedih karena eksploitasi sumber energi terbarukan belum maksimal. Justru konsumsi sumber energi yang makin hari makin mahal masih terlalu boros. 

SATU DARI EMPAT ORANG DI INDONESIA belum mendapatkan manfaat dari listrik! Kalau tahun ini penduduk di Indonesia berjumlah 250 juta jiwa, maka masih ada 62,5 juta jiwa yang masih hidup dalam ketertinggalan. 

Monday, April 15, 2013

The Story Of The Song: "Juragan Sapi"

Hello there!
Bagi yang telah membaca postingan gue yang sebelumnya, tentu sudah tahu bahwa gue sedang menggarap lagu dan video yang terbaru. Nah, sudah diunggah nih kawan! Judulnya Juragan Sapi.
Gue sempat bercerita bahwa lagu gue yang berjudul "Kepedihan Ibu Pertiwi" gue ikut sertakan dalam kompetisi cipta lagu dan video di Temporasi. Namun, ternyata penutupan pendaftaran diundur sampai tanggal 14 April kemarin, sehingga gue berpikir masih ada waktu untuk menggarap video yang lebih baik. Maka dari itu, gue membatalkan keikutsertaan video alay ini di Temporasi dan membuat yang baru. Monggo ditonton dan didengarkan :)



Pada saat harga daging sapi sedang melonjak tinggi, gue bener-bener gak habis pikir, kok bisa negara segede gambreng begini kekurangan produksi sapi. Mungkin karena gue gak ngerti seluk beluk per-sapi-an. Gue bilang ke teteh gue, "andai ya gue tajir gitu, pengen deh punya peternakan sapi di Cipanas". Teteh gue yang pintar itu menjelaskan panjang lebar bahwa bukan hanya memperbanyak peternakan, tetapi banyak faktor lain yang mempengaruhi. Soal rumput Indonesia beda dengan rumput Australia, soal perlakuan terhadap sapi-sapi yang berbeda, dan tentunya soal kepentingan-kepentingan pribadi di balik kepentingan rakyat. *sedih*

Bukan suatu kebetulan gue 'diliburkan' dari kantor. Mumpung libur, pulanglah gue ke Cipanas dan membeli koran Tempo untuk dibaca di perjalanan dalam kereta menuju Bogor. Ehh, ada informasi mengenai lomba TEMPOrasi ini. Langsung terbersit dalam pikiran gue, gue mau buat lagu soal kenaikan harga daging sapi. Beberapa menit kemudian, nada dan lirik sederhana pada baris pertama bait dan baris pertama reff muncul begitu saja dalam otak gue dan gue rekam di dalam kereta. (Jadi saat didengarkan kembali, terdengar bunyi gujesss..gujess..).

Sesampainya di rumah, gue mulai menyusun liriknya.. Dua hari kemudian mulai merekamnya (Proses rekaman akan gue buat dalam blog entry tersendiri ya) dan jadilah lagu dengan format mp3. Gue memperdengarkannya ke mama, mama Anna, dan mama Akang, mereka dukung untuk diikutsertakan dalam lomba ini. Kemudian gue kembali ke Jakarta dan memperdengarkannya kepada teteh. Mukanya aneh saat mendengarkannya. Haha. Saat gue tanya, "apa dong feedbacknya?" doi bingung gimana gitu ngejelasinnya, intinya ada yang aneh. Awalnya gue kira doi gak peduli gitu ngasih umpan balik gak jelas begitu. Tak tahunya, beberapa jam kemudian dia jelaskan bahwa ada bagian reff yang maksa. Dan keesokan harinya, dia menambahkan bahwa sudut pandang, kritik, dan harapan di lagu ini masih bias. Alasannya kurang kuat. Nah, bergumul kembali deh gue dengan browsing-browsing berita soal daging sapi. Setelah melakukan beberapa penyempurnaan di sana sini, maka jadilah lirik lagu Juragan Sapi ini.

Aku bermimpi jadi juragan sapi
memberi pasokan daging sapi di seluruh neg'ri
punya jutaan sapi yang kan mencukup
kebutuhan pasar-pasar, resto-resto dan rumah tangga

Tapi kok rasanya dipersulit
Harga daging lokal tinggi sekali
Daging impor katanya lebih murah
Rasanya lebih lezat...

Reff:
Kumau Indonesia makmur tak perlu impor sapi
Daging lokal ada di dapur harganya tidak tinggi
Dukung perbaikan gizi tingkatkan asupan protein terkaya

Aku menanti teknologi efektif
yang dikembangkan oleh kementrian pertanian
ciptakan bibit unggul yang kan perbaiki
kualitas kuantitas produksi sapi Indonesia

Tapi kok rasanya masih sulit
Anggaran penelitian sedikit
Peluang pinjaman dari bank seiprit
Kredit murah prosesnya rumit...


Perekaman dan syuting jika diceritakan di sini akan menjadi terlalu panjang, nanti saja gue ceritakan. Mohon doanya semoga video ini bisa jadi stepping stone buat kami (Gue, Septy-vokalis, dan Itop-kamerabro) untuk buat yang jauh lebih baik dan lebih profesional. Terima kasih sudah membaca!!

Tuesday, March 26, 2013

My New Song "Kepedihan Ibu Pertiwi"


Kesibukan pekerjaan, pelayanan, sekaligus kebiasaan menghabiskan waktu luang untuk menonton televisi membuat gue jarang posting nih. hehe.. Memang ya dasar gue maniak film, film seri, reality show, semuanya.. Jadi jarang berkarya juga..
Video pertama yang gue publish di blog ini berjudul "Kertas". Kali ini, gue berpartisipasi dalam lomba TEMPOrasi yang diadakan majalah TEMPO ini linknya.

Kriteria pemenang dibagi dua: akan diambil 3 pemenang berdasarkan jumlah like dan share terbanyak, dan diambil 3 pemenang berdasarkan hasil penjurian.

Untuk kriteria pertama, sepertinya gak bisa ngalahin teman-teman lainnya yang sangat gencar promosi dan kawan2nya banyak sekali.
Untuk kriteria kedua, sepertinya juga akan gagal, karena gue merasa pembuatannya terburu-buru sehingga saat nyanyi kadang maksa, kehilangan tempo dan fals. Videonya agak alay, apalagi pas yang close up. Tapi gue suka dengan lirik dan nadanya. 
Have a look..




Jawaku..
Tanahmu subur makmur.. Namun...
Engkau tertimbun batu..
Terkubur kejayaanmu.. sawahmu.. kebunmu..

Kalimantanku..
Luasmu tak sanggup kupeluk..
Sungaimu menyatukan kami..
Namun engkau tak dianggap.. dikesampingkan..

Reff: saat ini.. kubernyanyi nyatakan pedihnya hati 

Ibu pertiwi tak dihargai, melumpuhkan harapan..
Ku tak kan diam.. Aku kan berjuang..

Lautku..
Kau impian semua bangsa..
Indah kaya tak tertandingi..
Namun kau bagai tak ada.. dicuri, dimusnahkan..

Indonesiaku..
Terimalah maafku..
Tak hiraukan hadirmu..
Kuberbuat sesukaku.. ku malu.. ku malu..

  
Awalnya gue berencana untuk mengangkat tema kenaikan harga daging sapi yang sedang fenomenal, lagu sudah jadi, rekaman sudah rampung, konsep video sudah dibuat, tetapi karena kendala waktu ketemuan dengan tim, kami batalkan.

Namun, hati tetap bersikeras untuk ikut, dan ketika iseng membaca beberapa artikel dan tweet mengenai kondisi pulau Jawa yang makin padat, sementara bagian Indonesia lainnya justru tertinggal, hati gue (kembali) pedih. Menurut gue pemerintah harus bertanggung jawab atas kondisi ini. Pusat maupun Daerah. Meski demikian, gue juga sadari ternyata gue belum berbuat apapun untuk perjuangin hal ini. Kecuali berdoa. Itupun jarang-jarang. 


Dan terciptalah lagu ini. Waktu yang gue habiskan untuk menyelesaikan komposisi lagu ini adalah 2 hari. Inspirasi terbesar (selalu) di dalam perjalanan (terutama) di kereta. Setelah jadi dan diunggah, beberapa kawan yang tidak gue expect untuk mendengar dan melihatnya merasa terberkati :) Hal ini membuat gue tidak lagi terobsesi untuk menang di TEMPOrasi ini, sebab cukup buat gue bila ada yang terberkati dan menantikan karya-karya gue selanjutnya. (Dan tentu alasan lainnya adalah karena fals dan video alay gak bisa ditoleransi hehe).

Well,  gue bersama tim berencana untuk tetap menggarap video mengenai fenomena daging sapi. Nantikan yah :) :) :)